Kamis, 02 Oktober 2014

alesan

sebelumnya aku udah pernah marah-marah dengan tema 'alasan' kan? nah ini lanjutannya, jadi ini warning yaa, silahkan leave kalo nggak bisa nerima

barusan aku tanya di grup 'seperjuangan',

"menurut kalian alesan itu perlu nggak sih?"

awalnya aku nggak terlalu berharap dengan jawaban-jawaban yang muncul, karena kebanyakan orang jawabannya hampir sama : cuman alesan doang.

tapi setelah melihat jawaban yang muncul dari Afina, Khonsa, Riris...
aku jadi terhenyak *ciyeh
jawaban mereka punya lengkungan yang pas kayak cekunyan dikepalaku - KLOP
masuk akal, bisa dinalar~ suka dah ama yang beginian haha

jadi rangkumannya gini:

ada sesuatu yang perlu alesan, ada yang nggak. alesan itu perlu, kan semuanya terjadi pasti ada alesan, ada sebabnya.TAPI kalo cari-cari alesan sih... ng.. nggak banget deh! haha! kesannya jadi nggak asli lagi. kenapa aku tanya gitu? gini nih alesannya *eits :
aku bingung, kadang harus ada alesannya untuk diterima, tapi saat bilang yang sebenernya malah dibilang alesan -_- maunya apa coba?

mending dibiarin aja deh, nggak usah dipikir. yang penting kita udah berusaha jujur. intinya adalah : be yourself~
emang sih aku bukang tipe yang langsung nunjukin diriku yang sebenernya tu kayak apa. bukan tipe orang yang bisa langsung kamu percaya, hehe... sekarang aku sedang mencoba perlahan kok, kalo langsung ntar pada kaget lagi~ :D

okay back to resume. iya gitu, be yourself aja deh pokoknya,. karena kalo harus menyesuaikan dengan keinginan tiap orang itu melelahkaaannn... bangeettt... *ini aku diawal aku kenal ama orang :p
salah-salah malah we lost ourselves... terpenjara dalam opini tiap orang.. NOOOOO~~~~
capek kan?

tapiiii.... bukan berarti kita ngebuang opini orang gitu aja, kita harus tetep tau opini orang lain ke kita bukan sebagai tolak ukur utama, melainkan sebagai introspeksi diri aja.. takutnya malah ntar kita jadi self-centered lagi *ini aku disaat aku udah terjebak di 'aku-harus-jadi-diri-sendiri' things

begiichuu~

ini kita ngomong-ngomong begini bukan berarti kita udah ngerti dan mahir dan khatam masalah beginian loh yaa
justru kita masih banyak kekurangan, makanya kita nyari-nyari teori, hipotesis, kebenaran *eciyee
kita bandingin mana yang terbaik dan pas buat kita
kita masih sama-sama belajar~

dengan adanya forum (?) ini barusan aku berterimakasih banget, karena mereka nggak membenarkan kata-kataku, mereka berkata apa yang menurut mereka benar ke aku




Soo... aku bersyukur banget masih diingetin sama orang terdekat, bukan sama bukan siapa-siapa...
person like them, i'll keep them, treasure them as much as i can
I will more open about myself, slowly becoming myself, i don't expect them to like it, i just hoping they'll still accept me...

but suddenly a message appear and i just wanna break everything at my range...

gudnite~


Jumat, 26 September 2014

Stay and Listen

Hanya karena yang lain diam, bukan berarti mereka nggak lagi ngerasain apa yang pernah kamu rasain kan?

Hehe, habis diingetin sama temen.
Intinya sih, lebih berani ngomong ke orang langsung aja daripada misuh-misuh behind their back, actually it more hurt. Bayangin aja, tiap aku sensi atau marah, atau nggak suka aku langsung ambil hape dan ngakses sosmed. Ngamuk-ngamuk sendiri aku disana. Mengungkapkan ke 'nggak suka' anku terhadap situasi maupun keadaan waktu itu. padahal kalo kita marah kan lagi dikuasain setan yak? kata-kata yang keluar nggak pernah baik, dan selalu nyakitin.

Well... everything doesn't need to be talked about..

Yep, doesn't need to be talked about. aku emang nggak ngomong, tapi aku nyetatus dibelakang. Teman-teman yang baik, hal itu tidak benar jadi jangan ditiru yaahh

sekarang, harus lebih selektif aja deh pilih kata-kata, dan kalo emang ada yang ingin diungkapin, ya ngomong langsung aja jangan dibelakang begitu.. tapi tetep liat sikon, bener harus diomongin apa nggak.

terus..
ng...
semakin kesini, semakin umur kita nambah, semakin kompleks juga masalah yang ditemui.
kadang, peraturan sama norma nggak bisa nyelesaiin semua dengan baik. ada kalanya kita harus pake indra keenam kita : hati. hayo ngaku siapa yang pernah belagak buta dan nggak punya ati dengan membabi buta menyingkirkan yang dikata salah dan mengikuti apa yang disangka benar? atau justru menjadi oportunis, menonton semua dari pinggir dan cuma menunggu, berkata "oy udah belum?", "oy jadinya gimana?", "oy pikirin dong!".

SEMUA pasti pernah. aku, KAMU, dia, mereka, semuanya. boong kalo kamu nggak pernah.
bingung yak solusinya gimana? iya sama aku juga bingung hehe...
sebenernya sih simpel aja. dibalik semua kelakuan, SELALU, ALWAYS, ADA, YANG, NAMANYA, ALESAN.

tapi udah ngetren kata-kata "alah alesan" duluan sih...
apa yang salah dari alesan coba? nggak masuk akal? nggak berguna?
well, itu yang diucapkan dia ke kita, nah yang sebenernya? mana kita tahu

makanya jangan duluan nge judge ALAH ALESAN
sumpah benci banget sama kata-kata itu
orang kita aja ngerti nggak mungkin ada asap tanpa api
lah masak yang begini kita mesti ninggiin ego dan balik badan?

kita dikasi dua telinga dan satu mulut buat lebih banyak ngedengerin
coba deh sekali aja...
Just stay, and listen
don't cut their words, don't shout your ego
slowly you'll understand why
slowly you'll never ask them why again




Selasa, 23 September 2014

Inside

Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita, tidak perlu siapapun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan.

Karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita itu keren atau tidak, bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya diri kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia.

Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.

*Tere Liye
..
....
.........

"Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri"
Asik banget Bang Tere Liye kata-katanyaaah~

Minggu, 21 September 2014

Lagi Galau

I just can’t make my mind straight tonight

nggak ada satu lagupun yang bisa ngungkapin dan nyeritain perasaanku malem ini, jadi nulis random aja yaa...

I mad at people, people yell at me
I ignore people, people make me invisible
I hide everything from people, people faking me
I annoy people, people makes me sad L

Ada beberapa orang yang menurutku bisa aku percaya. Disaat aku mulai ngasi semua ke mereka, satu persatu mereka menghilang. Mataku masih bisa ngeliat mereka, telingaku masih bisa ngedenger mereka, dan aku masih dapet kabar mereka. Tapi, disini *nunjuk hati, udah nggak bisa lagi aku raih. Itu terlalu jauh, bahkan bintang aja masih lebih kerasa L

Aku Cuma butuh rumah, aku butuh pintu yang bisa aku masuki, aku butuh isinya untuk menerima, aku butuh seisi-isinya untuk berinteraksi. Tapi yang aku dapet Cuma jendela somplak dan pintu yang kuncinya udah patah didalem, nggak bisa dibuka lagi.

Perasaan itu nggak bisa berubah, manusianya yang berubah.

Iya, berubah lebih baik, maju. Dan untuk kedua hal itu manusia mulai nyari rumah baru, mencari cangkang baru. Ada yang lebih tertarik sama cangkang yang glamour, ada yang colourful, ada yang comfy, dan ada yang keras, tahan dengan kondisi apapun. Sedangkan aku disini? Masih mengintip ke jendela-jendela rusak itu, ngecek masih ada nggak ya yang dirumah?

Aku belum mampu ninggalin rumah, aku belum mampu nyari cangkang sendiri. Kalo keluar rumah tanpa cangkang, bisa dibilang aku belum layak. Aku masih rapuh, dan jauh dari ekspektasi. Aku produk gagal, aku sesuatu yang nggak bisa diharapkan.

Kalo di kandang sendiri aku kuat, aku berani, bahkan aku bisa dicap penindas. Disaat aku keluar, semua itu berbalik arah, matahari pun menjadi salah satu musuhku. Aku lebih suka bulan, akan lebih menyenangkan kalo ada bulan disiang hari -_-

Satu solusi yaitu : PERUBAHAN. Iya, change. Sayangnya saat ini dunia dipenuhi pelari. Mereka dengan cepat berubah dan meninggalkan apa yang ada dibelakang mereka begitu saja. Dan yang ditinggalkan? Selow, mereka juga dengan cepat berubah.

Tapi aku masih nggak bisa ngikutin ritme itu L

Aku masih lamban, berubah pelan-pelan. Karena jika aku memutuskan berubah, aku nggak bakalan lagi nengok kebelakang, berharap menjadi yang dulu.

Ketika aku berubah, aku benar-benar memutuskan apa yang harus kubawa, dan apa yang nggak.

Ketika aku berubah adalah saat dimana langit memuntahkan hujan kubis

Ketika aku berubah…


Ah aku bahkan nggak bisa mengira-ngira kapan itu terjadi

Sabtu, 13 September 2014

Kenangan

Aku telah merangkak maju selama ini,
Tapi aku rasakan aku berlari
Menyimpan udara sebanyak mungkin di relung paru
Dan menghembuskannya sedikit demi sedikit

Tapi hey, aku lelah
aku ingin berhenti sejenak dan bebalik
berjalan melewati ruang dan waktu

Tapi hey, aku sendiri
tak ada lagi kujumpai masa itu
semua telah berlari menuju mimpinya masing-masing

aku terduduk diam menatap sebuah kosong
tak ada apapun, tak ada kamu
hanya ada aku, semburat terakhir senja,
dan kenangan saat kita bermimpi bersama

Sebuah kenangan akan mimpi
Sebuah mimpi tentang kenangan